Di awal kemerdekaan, Yogyakarta memliki peran penting sebagai basis perlawanan menghadapi tentara kolonial Belanda. Ketika Jakarta diduduki Belanda, maka Ibu Kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta. Akibatnya, kota gudeg ini kemudian menjadi pusat pemerintahan. Presiden, Wakil Presiden dan hamper semua pimpinan Negara berada di Yogyakarta. Demikian juga dengan Jendral Sudirman, panglima besar angkatan perang Republik Indonesia yang memimpin perang melawan Belanda juga dari kota ini. Keratin atau kesultanan Yogyakarta selaku penguasa daerah, yang memiliki sejarah panjang dalam khazanah kekuasaan dan peradaban jawa, mendukung, membantu dan mengintegrasikan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Fasilitas yang dimiliki kraton boleh digunakan unruk kepentingan pemerintah, pertahanan, pendidikan dan lain-lain. Dalam periode mempertahankan kemerdekaan secara fisik melawan penjajah di Yogyakarta tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwono IX benar-benar menunjukkan dirinya sebagai sosok negarawan yang patriotik.
Bersamaan dengan perang kemerdekaan itu pendidikan tinggi mulai dibangun. Pada tahun 1946 didirikan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada yang pada tahun 1949 menjadi Universitas Gajah Mada. Kantor dan tempat kuliah menggunakan Sitinggil, pagelaran dan bagian-bagian keraton lainnya. Di samping balai perguruan lainnya yaitu Sekilah Teknik Tinggi (STT) dan Sekolah Tinggi Isalm (STI), dan Akedemi Ilmu Kepolisian. Kehidupan kampus dan dinamikanya mahasiswa mulai menggeliat yang mengantar Yogyakarta menjadi kota pelajar hingga sekarang. Mahasiswa di tengah perang kemerdekaan tidak tinggal diam, di samping kuliah mereka juga ikut berjuang. Untuk kepentingan perjuangan mahasiswa mendirikan berbagai organisasi, terutama di awali dengan berdirinya Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY), yang kemudian disusul organisasi-organisasi mahasiswa lainnya.Di tengah-tengah berkobarnya revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah Belanda, kehidupan politikpun berkembang untuk membangun Republik Indonesia yang demokratis, dengan ditandai berdirinya partai-partai politik yang berdasarkan ideology seperti Partai Masyumi, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan sebagainya. Namun demikian, kehidupan politik yang demokratis tersebut telah mendorong berkembangnya dinamika politik yang tak jarang ditandai dengan berbagai konflik politik antar-kekuatan politik-ideologis yang ada. Kompetisi politik guna memperebutkan pengaruh kekuasaan, terjadi sedemikian dramatis, bahkan massif. Semua partai politik menggalang kekuatan dengan mempengaruhi semua elemen masyarakat termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa, petani, buruh dan sebagainya.
Dalam situasi politik yang di tandai dengan propaganda ideologis seperti itu, tidak luput pula, sebagai organisasi mahasiswa PMY terpengaruh oleh para aktivis PS (Partai Sosialis), dan karenanya pergerakannya cenderung condong pada ideology komunis. Tentu saja tidak semua mahasiswa, khususnya mahasiswa Islam sepakat dengan realitas tersebut, bahkan yang mengemuka di dalam kehidupan mahasiswa Yogyakarta adalah pergolakan sebagai ketidakpuasaan terhadap PMY. Di sisi lain, hadirnya gaya hidup pergaulan hedonis yang jauh dari nilai-nilai Islami, mengakibatkan para mahasiswa yang beragama Islam (Muslim) semakin menetapkan niatnya untuk mendirikian organisasi mahasiswa sendiri. Semangat juang mahasiswa islam kian menggelora dan sudah tidak terbndung lagi. Akhirnya, pada tanggal 5 Februari 1947 berdirilah organisasi mahasiswa yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam, yang terkenal dengan sebutan HMI. HMI lahir dari kancah revolusi kemerdekaan Indonesia, karena itulah dapat dipahami apabila organisasi ini memiliki naluri dan watak pejuang serta pemikir yang bernafaskan Islam.
Lahirnya HMI dimulai dari kisah heroik seorang mahasiswa yang bernama Lafran Pane. Gelisah dengan perkembangan keadaan, khususnya di kalangan pergerakan mahasiswa serta melihat serta melihat potensi mahasiswa Islam yang perlu untuk diorganisasikan dengan baik, mahasiswa STI. Mengambil inisiatif untuk mendirikan organisasi mahasiswa Islam. Pada waktu kuliah tafsir oleh dosen Husein Yahya, Lapfran Pane meminta ijin untuk menggunakan tempat dan waktu kuliah tersebut dipakai rapat penting pembentukan organisasi mahasiswa. Husein Yahya Mengijinkan, bahkan turut serta mengikuti jalannya rapat. Karenanya, setelah mahasiswa STI duduk dan siap menerima kuliah, lafran Pane tampil di depan ruang kuliah dan dengan lantang menjelaskan bahwa kesempatan tersebut akan dipakai untuk mendirikan oganisasi mahasiswa islam. Dengan penuh percaya diri Lafran Pane mengatakan bahwa semua persiapan pembentukan organisasi mahasiswa sudah beres. Maka, seketika itu pula ruang kuliah STI itu menjadi gempar. Terjadi debat dan diskusi yang dinamis, membahas gagasan tersebut. Lafran Pane mempertahankan gagasannya dengan gigih dan arif, menjawab berbagai respon kawan-kawan mahasiswanya.
Alhamdulillah, akhirnya semua mahasiswa setuju dengan suara bulat mendirikan organisasi mahasiswa Islam dengan nama Hmimpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI. Waktu itu hari rabu Pon 1878 Tahun Saka atau 14 rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan 5 Februari 1947 M. itulah hari bersejarah bagi HMI, dan juga bagi dunia mahasiswa serta bangsa Indonesia pada umumnya. Dari keberanian dan cita-cita luhur putra bangsa itu lahir sarana dan wahana perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, dari kalangan mahasiswa muslim yang memiliki komitmen atas keislaman dan keindonesiaan. Jerih payah lafran pane dan 14 orang Kawan-kawannya mahasiswa STI, kelak membuahkan hasil gemilang, HMI yang menjadi organisasi besar dan terkemuka.
Pembentukan organisasi HMI bukan hanya karena tidak cocok dengan PMY, melainkan jauh dari itu karena adanya dorongan kepentingan lebih luas sebagai respon atas tuntutan perjuangan melawan penjajah Belanda, kesadaran yang mendalam atas kedudukan dan peranan mahasiswa sebagai kader bangsa yang dituntut tanggungjawabnya secara nyata di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain juga secara politis, perkembangan komunisme mulai mengkhawatirkan, dan semakin disadari hadirkan berbagai tantangan untuk mewujudkan masa depan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, adil dan makmur. Dalam pandangan para pendiri HMI, bahwa bagaimanapun di dalam suasana perang, mahasiswa tidak boleh lengah apalagi berhura-hura seperti gaya pergaulan di lingkungan PMY, melainkan harus bangkit berjuang dengan tujuan mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertingi derajat rakyat Indonesia, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dari rumusan itu tergambar secara utuh terintegrasinya wawasan keislaman dan keindonesiaan. Suasana kebatinan inilah yang kemudian menjadi karakter HMI, sebagai organisasi kade umat dan kader bangsa. Sedangkan wawasan kemahasiswaan menunjukkan HMI adalah organisasi mahasiswa yang berorientasi pada ilmu pengetahuan.
Kalau sekarang anggota HMI mencapai ratusan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia, tentu saja hal tersebut merupakan perkembangan yang luar biasa, dan sepertinya mustahil apabila dahulu organisasi ini bermula hanya dari 15 (lima belas) mahasiswa yang sedang kuliah di STI Yogyakarta. Pesatnya perkembangan HMI, bagaimanapun tidak dapat dilepaskan dari keberhasilannya dalam menjawab aspirasi mahasiswa dan tantangan zaman. Dari kampus STI, dalam waktu singkat banyak mahasiswa dari BPT Gajah Mada dan STT bergabung, dan selanjutnya HMImemperoleh sambutan luas dari kalangan mahasiswa mulim di Yogyakarta dan sekitarnya. Dalam perkembangannya, pengaruh dan daya tarik HMI meluas ke luar Yogyakarta menjangkau Surakarta, Klaten, Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya dan kota-kota lain yang ada peguruan tingginya. Keberadaan HMI ternyata sejalan dengan tuntutan bangsa Indonesia yang sedang perang melawan Belanda. Dengan senantiasa belajar dan berjuang secara gigih membentuk aggota HMI yang tangguh.
Untuk mengenang jasa dan melanjutkan tekad serta semangat pendiri dan para perintis HMI, setidaknya berikut ini terdapat empat versi catatan, yang perlu disimak.
Pertama, sesuai keputusan Kongres ke-11 HMI di Bogor tahun 1974, diputuskan bahwa Lafran Pane adalah satu-satunya pemrakarsa berdirinya HMI. Kedua, seminar sejarah HMI di Malang tanggal 27 sampai dengan 30 November 1975, memutuskan pendiri HMI adalah mahasiswa STI yang hadir dalam rapat pada saat didirikannya HMI tanggal 5 Februari 1947, yaitu Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Maisaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zaenab, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi, dan Bidron Hadi. Ketiga, Pengurus Besar HMI I yang dibentuk pada saat didirikannya HMI tanggal 5 Februari 1947, dengan komposisi dan personalia Ketua lafran Pane, Wakil Ketua Asmin nasution, Penulis I AntonTimur Jailani, Penulis II Karnoto Zarkasyi, Bendahara I Dahlan Husein, Bendahara II Maisaroh Hilal, anggota Suwali, Yusdi Ghozali, dan Mansyur. Termasuk dalam kelompok ini adalah PB HMI setelah di-reshuffle tanggal 22 Agustus 1947. Dengan ketua MS. Mintareja, Wakil Ketua lafran Pane, sekertaris I Asmin Nasution, Sekretaris II karnoto Zarkasyi, dan Bendahara Maesaroh Hilal.
Keempat, Pengurus Besar HMI pilihan Kongres I HMI di Yogyakarta tanggal 30 November 1947, yakni Ketua MS. Mintareja, Wakil Ketua Ahmad Tirtosudiro, Penulis I lafran Pane, Bendahara I Muhammad Sanusi, Bendahara II Suastuti Nutoyodo. Anggota Ushuluddin Hutagalung, Amin Syahri, dan Anton Timur Jailani. Beberapa waktu setelah Kongres berlangsung terjadi lagi perubahan susunan PB HMI, dan Anggota PB HMI ditambah lagi, menjadi : Ketua MS. Mintareja, wakil Ketua Ahmad Tirtosudiro, Penulis I Ushuluddin Hutagalung, Penulis II Lafran Pane, Bendahara I Muhammad Sanusi, Bendahara II Suastuti Nutoyodo. Angota-anggota Amin Syahri, Tejaningsih, Siti Baroroh, dan Usep Ranuwiardja. Selama agresi militer II tahun 1949, anggota PB HMI bertebaran. H. Sanusi, dan Ahmad Tirtosudiro berada di front perjuangan. MS. Mintareja berada di Pasundan. Ushuluddin Hutagalung berada di Jakarta. Karena di dalam pengurus HMI terjadi kevakuman, Lafran Pane mengambil alih PB HMI bulan Juli 1949, HMI dipimpin Ketua Umum Lafran Pane dan Sekretaris A. Dahlan Ranuwiardja.
Setelah HMI berdiri, menyusul berdiri Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) yang selanjutnya berubah menjadi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada tahun 1950. Berdirinya HMI telah mendorong mahasiswa – mahasiswa lain tergerak pula untuk mendirikan organisasi-organisasi mahasiswa, sehingga kehidupan dunia kemahasiswaan di Indonesia menjadi semakin marak dan dinamis.
Dalam proses perjalanan sejarah HMI selama 63 tahun terbentuklah karakterisrik HMI. Yang dimaksud dengan karakteristik HMI adalah sesuatu yang sejak awal kelahirannya sudah melekat pada dirinya, selalu menyertai dan menjiwai perjalanan hidup HMI, sehingga mampu mewarnai sikap perilakunya. Karakteristik atau jati diri HMI inilah yang membedakannya dengan organisasi lain.
Dari berbagai dokumen organisasi seperti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), Tafsir Azas, Tafsir Tujuan, Tafsir Independensi, karakteristik HMI mengandung prinsip-prinsip: Berazaskan Islam dan bersumber pada Al Quran serta As Sunnah. Berwawasan keislaman keindonesiaan atau kebangsaan dan kemahasiswaan. Bertujuan membina lima kualitas Insan Cita di dalam pribadi seorang mahasiswa yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kemanusiaan. Bersifat independen. Berstatus sebagai organisasi Mahasiswa. Berfungsi sebagai organisasi kader. Berperan sebagai organisasi perjuangan. Bertugas sebagai sumber insane pemimpin bangsa. Berkedudukan sebagai organisasi modernis.
(Deskripsi Historis Himpunan Mahasiswa Islam)
Sumber : HMI Candradimuka Mahasiswa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar